Kamis, 07 Juni 2012

Dreaming Of Prince Charming


Dongeng, film, buku dan kisah cinta di dalamnya yang penuh pelangi nggak jarang bikin kita tersihir. Alhasil, kita jadi pingin unya kisah cinta seperti dibuku dan film, deh! Dalam angan-angan ngebayangin punya pacar seperti pangeran yang siap berkorban demi cinta, atau yang bisa membawa kita nangkring diatas pohon seperti Edward Cullen. Bisa dibilang, kita jadi terobsesi banget sama kisah cinta itu? Padahal kenyataanya nggak selalu seindah dibuku atau film, kan?
 
Why Fairytale?
     Namanya juga buku atau film, pastinya dibikin seindah dan semenarik mungkin buat para pembaca dan penontonnya. Itulah yang membuat kita jadi pingin punya kisah cinta yang sama, meskipun sebenarnya sadar kalau semua itu nggak mungkin. Apa sih yang salah sama kita? Kenapa kita begitu terobsesinya sama kisah cinta dalam buku dan film?
      • Nggak pede
      
 Coba deh cek seberapa yakin kita sama hubungan yang kita jalanin bareng pacar. Jangan-jangan kita sebenarnya nggak pede nih sama hubungan kita. Kita selalu ketakutan kalu hubungan kita dan pacar nggak bakal berlangsung aman, nyaman, dan tentram sampai-sampai kita mesti menulis sendiri skenario hubungan kita seperti apa. Padahal, kan yang namanya cinta semestinya mengalir begitu saja. Salah satu penyebab rasa nggak pede itu adalah karena kita kurang percaya sama pacar dan diri kita sendiri. Kita nggak  percaya kalua kita cukup baik untuk pacar atau justru kita selalu takut kalau pacar nggak sekuat , seromantis, atau sesetia karakter dibuku atau film. Hmm, jadi ribet sendiri, ya?
       • Miss Perfeksionis
        Sifat kita yang perfeksionis dan mau segalanya serba sempurna dan terbaik inilah yang justru jadi awal masalah. Soalnya kita cenderung jadi nggak menghargai hubungan yang kita punya atau pun pacar kita. Ujung-ujungnya, kita jadi sering mengeluh soal pacar yang kurang romantis atau mencari-cari kesalahan pacar. Nggak seru banget, kan kalau dia kabur hanya karena kita terlalu sering membandingkannya dengan karakter dibuku atau film kesayangan kita.
 
Obsession Oh Obsession
Bermimpi atau berharap punya kisah cinta seperti dibuku atau film kesayangan, sih sah-sah saja sebenarnya. Tapi, kalau harapan dan mimpi kita itu sudah menguasai diri dan bikin kita berbuat sesuatu yang ekstrim untuk mewujudkan mimpi itu bahaya nih!
       Menurut seorang psikater klasik, Jules Baillarger, obesesi adalah kondisi ketika pikiran kita dikuasai dan dikendalikan oleh hal tertentu.
       Hal ini sebenarnya sejalan dengan apa yang dikatakan John D.Moore dalam bukunya Confusing Love With Obsession. Menurutnya ada 4 tahapan dalam sebuah hubungan yaitu: fase ketetarikan, fase khawatir, fase obsesif dan fase destruktif. Bahnya adalah jika kita sudah mencapai tahap destruktif atau merusak. Misalnya saja, kita sengaja menyebrang jalan sembarangan supaya sang pacar menyelamatkan kita seperti di twillight. Nggak hanya membahaykan orang lain, kita juga lho. Kalau terus berlanjut, schizophrenia  yang menunggu. Penyakit gangguan jiwa yang diikuti dengan delusi dan halusinasi.


Make Your Own Happy Ending
Beberapa tips supaya kita terlepas dari obsesi kita sama kisah cinta diktif itu dan punya happy ending kita sendiri!   
       Percaya, percaya, percaya!
             Percaya sama hubungan kita dan pacar. Kalau kita percaya kita pun bakal lebih gampang menjalani semua hubungan tanpa ada rasa khawatir.
        • Nothing’s Perfect!
            Kalau kita percaya nggak ada yang sempurna, kita nggak bakal menaruh harapan terlalu tinggi terhadap segala sesuatunya. Dengan membiarkan semuanya mengalir dan menerima kekurangan dalam hubungan pacaran, kita pasti bakal sukses menjalaninya.