Dongeng, film, buku dan kisah cinta di dalamnya yang penuh
pelangi nggak jarang bikin kita tersihir. Alhasil, kita jadi pingin unya kisah
cinta seperti dibuku dan film, deh! Dalam angan-angan ngebayangin punya pacar
seperti pangeran yang siap berkorban demi cinta, atau yang bisa membawa kita nangkring diatas pohon seperti Edward Cullen. Bisa dibilang, kita jadi
terobsesi banget sama kisah cinta itu? Padahal kenyataanya nggak selalu seindah
dibuku atau film, kan?
Why Fairytale?
Namanya juga buku
atau film, pastinya dibikin seindah dan semenarik mungkin buat para pembaca dan
penontonnya. Itulah yang membuat kita jadi pingin punya kisah cinta yang sama,
meskipun sebenarnya sadar kalau semua itu nggak mungkin. Apa sih yang salah
sama kita? Kenapa kita begitu terobsesinya sama kisah cinta dalam buku dan
film?
• Nggak pede
Coba deh cek seberapa yakin kita sama hubungan yang kita jalanin bareng pacar. Jangan-jangan kita sebenarnya nggak pede nih sama hubungan kita. Kita selalu ketakutan kalu hubungan kita dan pacar nggak bakal berlangsung aman, nyaman, dan tentram sampai-sampai kita mesti menulis sendiri skenario hubungan kita seperti apa. Padahal, kan yang namanya cinta semestinya mengalir begitu saja. Salah satu penyebab rasa nggak pede itu adalah karena kita kurang percaya sama pacar dan diri kita sendiri. Kita nggak percaya kalua kita cukup baik untuk pacar atau justru kita selalu takut kalau pacar nggak sekuat , seromantis, atau sesetia karakter dibuku atau film. Hmm, jadi ribet sendiri, ya?
• Nggak pede
Coba deh cek seberapa yakin kita sama hubungan yang kita jalanin bareng pacar. Jangan-jangan kita sebenarnya nggak pede nih sama hubungan kita. Kita selalu ketakutan kalu hubungan kita dan pacar nggak bakal berlangsung aman, nyaman, dan tentram sampai-sampai kita mesti menulis sendiri skenario hubungan kita seperti apa. Padahal, kan yang namanya cinta semestinya mengalir begitu saja. Salah satu penyebab rasa nggak pede itu adalah karena kita kurang percaya sama pacar dan diri kita sendiri. Kita nggak percaya kalua kita cukup baik untuk pacar atau justru kita selalu takut kalau pacar nggak sekuat , seromantis, atau sesetia karakter dibuku atau film. Hmm, jadi ribet sendiri, ya?
• Miss Perfeksionis
Sifat kita
yang perfeksionis dan mau segalanya serba sempurna dan terbaik inilah yang
justru jadi awal masalah. Soalnya kita cenderung jadi nggak menghargai hubungan
yang kita punya atau pun pacar kita. Ujung-ujungnya, kita jadi sering mengeluh
soal pacar yang kurang romantis atau mencari-cari kesalahan pacar. Nggak seru
banget, kan kalau dia kabur hanya karena kita terlalu sering membandingkannya
dengan karakter dibuku atau film kesayangan kita.
Obsession
Oh Obsession
Bermimpi atau berharap punya kisah cinta seperti dibuku atau film
kesayangan, sih sah-sah saja sebenarnya. Tapi, kalau harapan dan mimpi kita itu
sudah menguasai diri dan bikin kita berbuat sesuatu yang ekstrim untuk
mewujudkan mimpi itu bahaya nih!
Menurut seorang psikater klasik, Jules Baillarger, obesesi adalah kondisi ketika pikiran kita dikuasai dan dikendalikan oleh hal tertentu.
Menurut seorang psikater klasik, Jules Baillarger, obesesi adalah kondisi ketika pikiran kita dikuasai dan dikendalikan oleh hal tertentu.
Hal ini
sebenarnya sejalan dengan apa yang dikatakan John D.Moore dalam bukunya Confusing
Love With Obsession. Menurutnya ada 4 tahapan dalam sebuah hubungan yaitu:
fase ketetarikan, fase khawatir, fase obsesif dan fase destruktif. Bahnya adalah
jika kita sudah mencapai tahap destruktif atau merusak. Misalnya saja, kita
sengaja menyebrang jalan sembarangan supaya sang pacar menyelamatkan kita
seperti di twillight. Nggak hanya membahaykan orang lain, kita juga lho. Kalau terus
berlanjut, schizophrenia yang menunggu. Penyakit
gangguan jiwa yang diikuti dengan delusi dan halusinasi.
Make Your
Own Happy Ending
Beberapa tips supaya kita terlepas dari obsesi kita sama kisah
cinta diktif itu dan punya happy ending kita
sendiri!
•Percaya, percaya, percaya!
Percaya sama
hubungan kita dan pacar. Kalau kita percaya kita pun bakal lebih gampang
menjalani semua hubungan tanpa ada rasa khawatir.
• Nothing’s Perfect!
• Nothing’s Perfect!
Kalau kita
percaya nggak ada yang sempurna, kita nggak bakal menaruh harapan terlalu
tinggi terhadap segala sesuatunya. Dengan membiarkan semuanya mengalir dan
menerima kekurangan dalam hubungan pacaran, kita pasti bakal sukses menjalaninya.





























